Review: God of War

Kratos sudah tua.

[REVIEW INI MENGANDUNG SEDIKIT SPOILER]

Di tahun 2000-an, God of War series adalah game yang terkenal dengan aksi bacok-membacok monster mitologi yang cukup brutal. Intense. Stylish. Tahun ini (2018), God of War adalah game yang dewasa. Game inget umur. Kratos tua meninggalkan senjata ganda berelemen api yang menemaninya sejak masa muda, Blades of Chaos; dan beralih membawa Leviathan Axe, kapak berelemen es milik mendiang istrinya.

Berbeda dengan senjata lama yang bondo nekat (majuuu, sikaaat, bacook!), bertarung dengan kapak ini perlu strategi yang matang. Lihat gerakan musuh, pasang tameng, amati, kemudian parry atau evade, baru bacok. Mirip mekanik di Dark Souls. Sembrono bisa bikin kamu ora ono.

Kratos menatap ke arah masa mudanya

Pada awalnya saya agak canggung menggunakan kapak ini. Selain karena terasa lambat, juga karena masih level 1. So basic. Tapi begitu menguasai mekanik lempar kapak-yang-habis-dilempar-bisa-dipanggil-lagi itu, ambooi, rasanya sungguh menggetarkan. Bayangkan adegan ini: ada monster jauh di sana, siap-siap meluncurkan projectile bola api. Tapi Kratos nyambit doi duluan dengan kapak, trus lari menerjang ke arah si monster. Kapak yang tertancap di kepala si monster dipanggil melesat menuju tangan Kratos untuk kemudian disabetkan lagi ke monster malang ini. Arrgh. Kalau lagi jalan santai dan gak ada musuh saya sering melempar-lempar si kapak hanya untuk melihat animasinya pas balik ke tangan Kratos. So manly. So badass. Selain itu, dengan pergerakan kamera yang dinamis dan getaran stik, kapak ini beneran terasa “heavy” di tangan kita. Btw, developernya dengan baik hati nge-share bagaimana mereka memrogram mekanik ini.

Meski di-reboot di bagian gameplay; kisahnya adalah lanjutan dari kisah game terdahulu.

Ceritanya, Kratos dah pensiun dari bacok-bacokan dan hidup dengan keluarga manusia di gubuk sederhana. Punya istri (kedua) namanya Faye dan anak laki-laki namanya Atreus. Di awal game, kita (Kratos) dihadapkan pada kenyataan bahwa Faye ini baru meninggal kemudian mewasiatkan agar abunya ditebar di puncak gunung. Kratos nggak mau terburu-buru naik gunung karena perjalanan pasti penuh bahaya, sementara si anak masih bocah. Nunggu agak gede dikit gitu lah.

Namun mendadak ada sosok misterius yang mendatangi mereka dan bikin rusuh sampai menghancurkan rumah.

Apa boleh buat. Setelah membereskan si pengacau, Kratos akhirnya memutuskan untuk cabut naik gunung bersama anaknya. Di rumah atau di jalan ternyata sama saja bahayanya.

Nah, inti game ini adalah petualangan Kratos dan anaknya naik ke puncak gunung. Ada elemen RPG di sini. Kratos bisa upgrade kapaknya, bisa masang batu jimat untuk melapisi armornya, mempelajari jurus baru dan lain-lain. Atreus dibekali dengan panah untuk membantu bapaknya melawan monster; mengganggu dan mengalihkan musuh atau mencari jalan keluar dari suatu puzzle. Si bocah juga membantu banyak untuk mencari clue dan membaca bahasa rune kuno; berkat dulu diajari ibunya.

Formula AI companion ini tidaklah baru. God of War meminjam mekanik game seperti di The Last of Us dan BioShock Infinite. Atreus bisa naik level dan bisa upgrade juga. Mulai dari armor, panah, sampai jurus untuk memanggil hewan-hewan ghaib (favorit saya adalah si tupai kurang ajar yang bisa menggali tanah untuk mencari item). Interaksi yang terjadi antara bapak-anak ini cukup menarik untuk disimak. Terutama karena celetukan-celetukan naif Atreus tentang dewa-dewa; sementara dia nggak tahu kalau bapaknya sesungguhnya adalah… dewa.

Selain armor dan senjata, sikap dan karakter Atreus juga berkembang seiring game berjalan. Di awal game dia harus dipandu, kemudian lama-lama dia akan mulai nyerang musuh sendiri, mulai aktif nunjukin clue kalau Kratos kesasar dan lain-lain. Mendekati pertengahan, si bocah jadi congkak karena ************* kemudian sembrono sampai mulai marah-marah sama bapaknya. Di fase ini dia jadi rebel, menolak membantu dan bakal nyeletuk “Whatever!” (“Au ah!”). Dasar bocah.

Buat saya ini adalah nilai paling plus dari God of War. Sesuatu yang bisa relate dengan pemain. Saya yakin banyak bapak dengan anak akan termangu megang controller di beberapa momen saat memainkan game ini. Kemudian endingnya juga mantap. Mengejutkan dan exciting. Banyak hal disingkap yang membuat kita ingin terus mengikuti kelanjutan petualangan bapak anak ini. (Sequel, please?)

(gambar diambil menggunakan fitur Photo Mode)

Presentasi narasi di GoW berlangsung tanpa jeda. Dalam artian; tidak ada cutscene, tidak ada flashback, time-skip atau pergantian momen. Bahkan waktu loading juga “disembunyikan” dengan ciamik menggunakan lokasi ghaib yang di game diceritakan sebagai tempat penghubung antar realm. Teknik ini bisa kita temukan juga di loading game kayak Assassin’s Creed atau Bayonetta. Bedanya, di GoW ada interaksi antar karakter dan dialog yang membuat loading screen ini bagian dari alur cerita. Seamless.

Kamera mengarah gaya over-shoulder seperti game-game modern dan fokus mengikuti Kratos. Ini membuat Kratos terasa lebih personal daripada game-game GoW sebelumnya yang fokus di action. Mengenai grafis, kalau untuk ukuran game jaman sekarang ya tidak mengejutkan lah. Tapi animasi memang luar biasa. Kratos jalan santai, kamera ngikut kalem. Kratos bacok-bacok, kamera ikutan chaos. Karena narasi yang tidak putus ini, saya kemarin bermain cukup lama dan hampir tidak tidur gara-gara selalu ada hal baru untuk dijelajahi. Habis ngalahin boss, naik perahu mau ke tempat dwarf untuk upgrade armor eh lho ngelihat sesuatu di kejauhan. Apa itu ya? Trus menemukan tempat baru. Musuh baru. Puzzle baru. Jangan ditiru!

Monster-monster bervariatif dan tidak sampai bikin frustrasi. Tantangan datang ketika ada tipe yang kebal dengan senjata es jadi Kratos harus menggebuknya pake tangan kosong. Fun. Mini-boss macem troll gede atau elemental raksasa juga ada, hanya sayangnya metode mengalahkan mereka hampir sama semua. Ohya, Atreus mencatat setiap hal di bukunya dan selalu dia update. Misalnya ketemu musuh tipe A, dia akan mencatat deskripsinya kayak gimana. Nanti ketemu lagi musuh tipe yang sama, dia akan menambahi catatannya di bawah; kelemahannya dll. Saya inget saat membaca catatan dia tentang mengincar kaki musuh pake kapak biar mereka terpeleset. Leh uga bocah ini.

World building-nya juga gila. Kalau di game-game sebelumnya settingnya adalah dunia di mitologi Yunani, di GoW ini settingnya adalah mitologi Norse. Dan seperti yang kita tau, di mitologi Norse itu ada 9 alam semesta. Dunia manusia disebut Midgard; tempat Kratos pensiun. Lantas ada Alfheim, dunia para Elf. Ada Asgard, Muspelheim, Helheim dst silakan lanjutkan sendiri. Lokasi-lokasi realm ini bisa diakses melalui kolam ajaib di kuil utama. Meskipun ada 9 realm yang ditunjukkan, namun sampai saya tamat; hanya enam realm yang bisa kita jelajahi. Tiga realm lain dikunci oleh Odin. Mungkin nanti dibuka untuk DLC atau sequelnya. (?)

kolam buat pindah realm

Ada beberapa kelemahan minor di game ini; seperti inventory dan sistem pemasangan jimat yang membingungkan, navigasi perahu yang kadang salah arah atau nyangkut, dan ukuran teks di yang kurang terbaca. Namun itu semua nggak sampai mengganggu kesenangan bermain, jadi nggak berpengaruh di nilai review ini. Tapi ada satu hal yang buat saya cukup fatal: boss terakhir yang cupu. Saya menyadarinya saat tiba-tiba keluar teks nama-nama developer di layar. Lho sudah credits title. Sudah tamat? Boss finalnya cuma gitu doang? Mengecewakan. Well, mungkin final boss ini terasa cupu karena saya sudah cukup pengalaman berjam-jam melawan boss Bloodborne yang naudzubillah susahnya itu. Still..

Memang ada beberapa boss yang susah untuk dikalahkan, yaitu para Valkyrie. Keren dan sangar, terutama ratu mereka yang bernama Sigrun. Namun mereka semua optional. Jadi gak ngaruh di cerita utama. Kalau saja Santa Monica membuat (mandatory) boss yang lebih epik dan menantang, saya pasti akan memberi game ini nilai sempurna.

Untuk itu, nilai God of War dari saya adalah

9/10

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *