Mochi Sichuba Eps 01

Kisah tentang kucing jelek bernama Mochi.

Saat itu pertengahan 2015, bulan Ramadhan. Saya masih bujang. Selepas tarawih, saya ngecek henfon. Ada miskol dari kawan sepermainan satu kost. Ada apa nih? Karena malas telfon balik, saya buka whatsapp saja.

Saya tidak akan menerjemahkan obrolan di atas karena pasti bakal terasa berbeda. Intinya sih Joseph mengabari kalau ibu kost membuang kucingnya lantas doi berinisiatif untuk menyelamatkannya. Saya langsung setuju. Tanpa pikir panjang. Karena dulu setiap kali saya harus masuk rumah ibu kost untuk bayar uang bulanan atau ada keperluan lain, si kucing malang ini *selalu* berada di dalam kandang. Saya membatin dan berniat untuk mengadopsinya namun kemudian husnudzon mana tahu saat itu si pemilik masih ribet jadi luput mengurus kucingnya dengan baik.

“Mochi kok sekarang nakal ya!” celetuk si ibu seperti yang ditirukan oleh mas-mas tukang. “Dulu dia lucu padahal.”

Sebentar. Sebelum bagian ‘sekarang nakal’ itu gimana ceritanya? Dan mas-mas tukang apa itu?

Gini. Jadi rumah kost yang saya tempati bersama Joseph itu sedang direnovasi. Pemiliknya membangun kamar-kamar baru dan membongkar bangunan rumah lamanya. Karena ada pekerjaan berat dan sudah nggak ada ruangan, maka Mochi ini dititipkan sementara. Namun nitipnya bukan di rumah kerabat atau apalagi di pet hotel, melainkan di kediaman mandor tukangnya. Di perkampungan.

Di sana konon Mochi jadi kucing jalanan. Trus untuk menyesuaikan kondisi dusun, mandor dan kawan-kawan memanggilnya dengan: “Bimbim”. Jangan tanya saya kenapa mereka menamainya begitu. “Bimbimmm ayo makan dulu ini ada ikan asin…” (?)

Begitu renovasi rumah sudah sekitar 70%, Bimbim alias Mochi dibalikin ke sang pemilik. Melihat kelakuannya berubah, yang jadi agak rebel karena gaul di jalanan, beliau jadi nggak sudi lagi memeliharanya.

Saya mencelos saat mendengar kisah dari tukang/mandor. “Kasian ini Bimbim/Mochi. Saya tau ini kucing bagus, Mas. Persia apa ya? Anak-anak juga seneng main sama dia. Tapi yaa kita gak mampu merawatnya. Gak berani, Mas. Nanti salah kasih makan, salah perawatan trus dia sakit kan saya yang dosa.”

Kemudian karena Joseph kerja kantoran dan sering dinas keluar pulau, maka saya –yang waktu itu masih freelance dan di rumah melulu– memutuskan untuk merawatnya secara penuh.

Langkah pertama tentu membawanya ke dokter hewan. Cek kondisi kesehatan, ngobatin infeksi atau jamur atau apapun yang melekat, ngasih vaksin dan konsultasi untuk neuter sesegera mungkin. Neuter atau steril ini sangat penting karena Mochi ini sedang di masa remaja, birahinya menggelora. Doi akan selalu pipis sembarangan di lantai, di pintu dan di tembok untuk menggaet kucing betina. Problem berikutnya kalau tidak segera di-neuter adalah: kalau dia (somehow) berhasil anuan menghamili kucing betina dan si kucing ini melahirkan; maka bakal ada anak-anak kucing yang beresiko terlantar.

Anyway, saya tidak tahu secara pasti umur Mochi ini berapa. Pemilik sebelumnya saat saya tanya juga tidak menjawab dengan pasti, dan buku kesehatannya hilang. Jadi kalau ngisi data di klinik selalu mengira-ngira. Haha. Saat diadopsi di 2015 (katanya) berumur 1,5 tahun. Jadi sekarang 2018 umurnya sekitar 4,5 tahun. Kalau dikonversi ke tahun manusia, umur Mochi itu sekitar 32 tahun umur manusia. Lumayan tua.

Nafsu birahi hilang, nafsu makan meningkat dua kali lipat. Mochi lantas makan melulu. Tidur melulu. Saat itu kamar yang saya tempati tidak cukup luas, jadi ruang pergerakan Mochi jadi terbatas. Main pake pancingan juga kurang leluasa. Ngajak main di luar juga tidak optimal karena: 1) dia bakal ngejar dan ngajak berantem kucing tetangga; 2) jalan sebentar, ngendus-ngendus semak belukar trus gelosoran lagi.

Akhirnya berat Mochi pasca di-neuter naik jadi 5,5 kg. Saya dimarahi dokter.

“Kucing jenis Mochi ini maksimal 5 kilogram ya. Lebih dari itu kasian dia. Kalau obesitas, dia nanti jadi sulit nafas, trus bisa gangguan pencernaan. Sering-sering ajak main ya, dan makannya dikurangi!”

Oke, dok!

 

 

[Bersambung ke Mochi Sichuba Eps 02]

2 Comments

  1. September 13, 2018
    Reply

    gemes bgt kucingnya!! mirip sm kucing tetangga waktu sd..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *